Hambatan yang mengganjal dan yang selalu mencederai ternyata selalu berada di depan mata. Yaitu yang masih rentan dengan cobaan-cobaan. Senang tidak senang. Cocok tidak cocok, bahkan saling menyalahkan, mudah tersinggung, mudah salah paham, mudah sakit hati, mudah mengeluh, dadanya mudah sesak dan sempit. Mudah buruk sangka, mudah marah-marah, emosi dan seterusnya... Sangat kurang mencermati dan mendalami nilai-nilai sumpah dan janji dihadapan Guru Wasitlah yang hakekatnya adalah sumpah dan janji dihadapan Allah Swt sendiri.
1. Kesadaran terhadap makna al-faqir yang taat kepada Guru.
2. Kesadaran terhadap maksud sedulur sinarawedi lahir batin.
3. Kesadaran terhadap maksud bebarengan dan tulung tinulungan.
4. Kesadaran terhadap maksud rela berpisah di dalam kedurhakaannya.
Dan bagi yang bisa segera menyadari (atas petunjuk dan belas kasih Allah) akan segera . Bahwa dengan adanya hal-hal seperti itu disadari karena masih kurangnya lakon dan pitukon. Banyak sembrononya. Masih banyaknya salah dan dosanya..........
Barometernya ketika melakukan dzikir nafi itsbat...
Kehidupan para kekasih Allah, nabi-Nya, rasul-Nya, ahlul baitnya Junjungan Nabi Muhammad SAW yang cita-citanya hanya satu, berjalan menuju kepada Allah sehingga sampai dengan selamat. Mereka semua ahlul kurub. Ahli prihatin. Benar-benar telah diremehkan.
Bangunan watak dan kepribadian serta akhlak mulianya yang selalu berlapang dada dengan wurudul faqoti a’yadul muridina fal faqothu bastul mawahibi yang terbentuk dari membalik watak, dasar taubat dan ilmunya yang bermanfaat, sama sekali luput dari perhatian orang kebanyakan.
Hal-hal di atas telah diajarkan oleh Wasitlah. Karena itu bagi siapapun yang tidak menekuni, meskipun telah memperoleh izin menerima ilmu Syathoriyah, gagal ditengah jalan adalah resikonya.
Sebagaimana keadaan diri kita masing-masing. Kita semua berjiwa raga. Jiwa raga adalah wujudnya nafsu, dan nafsu adalah hakekat dunia. Dibuat Allah dari setetes mani ternyata hanyalah menjadi penentang yang terang-terangan terhadap mengadanya Wasitlah dan ajarannya. Sama dengan makhluk yang berani menentang perintah Allah. Dan Allah memberi nama dijuluki syaithon.
Kemudian dengan izin Allah lewat Wasithah ditetesi Nur Muhammad. Maka nafsu yang wujudnya jiwa raga ini, maunya berontak. Menentang dan mungkar. Karena itu apabila mujahadahnya tidak cermat, menoleh, waleh (jemu), berhenti, dan bahkan mbalela, adalah kenyataan yang tidak terbantahkan sejak pada zaman kenabian.
Karena itu setelah mendapat berkah ilmu Nur buwah, dijelaskan lalu dijanji, sang pemberi ilmu berucap: ”Sudah, sudah gugur kewajiban saya. Sekarang tergantung kepada kamu sendiri-sendiri. Apabila benar-benar percaya dan mau dengan rela menjalani, dijamin Allah diberi kanugrahan lahir batin dunia akherat. Apabila sembrono sebaliknya. Azab Allah pasti ditimpakan kepada yang sembrono itu. Karena itu berhati-hatilah!!”
Itulah sebabnya mengapa tidak henti-hentinya kita semua selalu mohon berberan, sawab, dan berkah pangestunya Wasithah. Berberan, sawab, dan berkah pangestunya Wasithah akan diperoleh karena berlapang dada memenuhi perintah Allah: ”Ta’awanu ’ala al-birri wa at-taqwa wala ta’awanu ’ala al-itsmi wa al-’udwan”. Bertolong-tolongan terhadap bagusnya melaksanakan Dawuh Guru dibangun dengan kesadaran, saling ingat mengingatkan. Saling melengkapi dan rela bermusyawarah di segala urusan agar terlaksana dengan lancar, tertata dan seia sekata dalam menjalani perintahnya Guru. Sehingga bertolong-tolongan taqwanya kepada Allah menjadi kokoh. Yakni kesungguhannya melaksanakan ibadahnya kepada Allah akan dapat dilakukan dengan benar dan ikhlas. Sehingga terhindar dari larangan Allah agar tidak bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Benarnya ibadah kepada Allah adalah itba’ kepada Junjungan Nabi Muhammad SAW dan kepada para wakilnya yang dalam rantaiilsilah sama sekali tidak pernah terputus hingga kini sampai kiyamat nanti. Itba’ terhadap ucapannya dan perbuatannya. Ilmu dan amalnya, lahir dan batinnya, disertai dengan hati yang selalu mengintai-intai Satu-satuNya Dzat Yang Mutlak WujudNya (Isi-Nya Huw). Itba’ seperti itu yang dimaksud dengan berjalan di atas Shirathal Mustaqim. Sama artinya dengan menyiapkan diri untuk didekatkan (oleh Allah) kepada-Nya sehingga sampai.
Itba’ yang harus diperjuangkan pada setiap diri hamba yang telah mendapat izin menerima Ilmu Syathoriyah (= Ilmu Nubuwah). Apabila tidak, sama sekali tidak akan didekatkan oleh Allah kepada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar